Pada zaman dahulu di pulau Yapen dan pulau-pulau di sekelilingnya tidak dihuni oleh seorangpun. Dari mana asal dan datangnya penduduk yang ada pada dewasa ini, dikatakan bahwa dulunya mereka bertempat tinggal di gunung Tonater di daerah Waropen. Pada waktu itu mereka hanya memiliki satu bahasa.

Pada suatu hari penduduk gunung Tonater ini berniat untuk membuat sebuah menara yang tingginya dapat mencapai bulan. Adapun maksud pembuatan menara ini adalah supaya mereka boleh naik ke bulan, untuk menemui para bidadari yang berada di bulan. Menara tersebut dibuat dengan bambu dan di beri bertangga. Dari hari ke hari mereka sibuk mengerjakannya agar rencana mereka terwujud. Sementara mereka sibuk memasang rangka, tiba-tiba menara itu goyah lalu rubuh bersama orang-orangnya yang menyebabkan kematian dan bahasa persatuan merekapun hilang. Orang-orang yang meninggal kemudian menjelma menjadi hewan. Ada yang menjadi kasuari, ular, babi, burung-burung dan ada pula yang menjadi ikan seperti : ikan paus, hiu dan sebagainya.

Hewan-hewan ini kemudian mengadakan musyawarah dan telah bermufakat untuk meninggalkan gunung Tonater, karena tempat ini membawa aib bagi mereka. Oleh sebab itu mereka akan menyebar dan mendiami pulau Papua. Ada yang mengungsi ke ujung Timur Papua, ada pula yang ke Barat, ke Utara maupun ke Selatan. Selain di tanah besar ada juga yang menyebar ke pulau-pulaul, seperti : Pulau Yapen, Pulau Biak, Pulau-pulau Moor, Raja Ampat dan lain sebagainya.

Keesokan hari sebelum fajar menyingsing, sebuah perahu sudah siap tertambat dimuara kali Demba. Hewan-hewan yang yang hendak ikut semuanya telah siap diperahu. Saat itu mereka mereka merasa bahagia, karena yang dicita-citakan telah tercapai. Kini tibalah waktunya untuk bertolak, maka perahupun dilepas kemudian meluncur dipermukaan air meninggalkan muara kali Demba, menuju selat Saireri yang tenang dan kebiru-biruan. Keadaan cuaca di selat Saireri pada pagi itu sangat cerah. Perahupun terasa makin lama semakin laju, seperti menggunakan motor tempel layaknya. Sebentar-sebentar terlihat oleh mereka, sebuah titik yang makin lama makin membesar dan berbentuk sebuah hulu perang. Itulah barisan gunung di pulau Yapen yang membentang dari ujung timur ke sebelah Barat. Karena si Kasuari senang lalu ia berdiri untuk meyakinkan penglihatannya, namun ia tidak menyadari keadaan, sehingga kakinya yang runcing telah menembus dasar perahu.

Akibat perahu berlubang air laut masuk dan hampir-hampir saja mereka tenggelam. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan air, ternyata usaha mereka inipun tidak menolong juga. Terpaksa Tikus tanah berusaha menutupi lubang perahu dengan moncongnya yang besar dan lebar. Dengan cara ini mereka tertolong, namun sewaktu-waktu moncongnya kemasukan air terpaksa dikeluarkannya untuk bernapas sebentar.

Demikianlah dilakukannya berulang-ulang sehingga mereka tiba dipantai pulau Yapen. Tempat pendaratan mereka ialah pasir putih Arareni di Randawaya. Setiba didaratan, mereka menghembuskan napasnya dengan berlapang dada serta berterimakasih kepada sang pencipta, karena telah tiba dengan selamat. Saat itu juga Kasuari meninggalkan teman-temannya lalu menghilang ke dalam hutan. Ditelitinya keadaan hutan, apakah dapat menjamin ketentraman hidup mereka atau tidak. Sudah beberapa hari ia meninggalkan teman-temannya,tetapi belum muncul juga. Pada suatu hari Kasuari kembali lagi dengan membawa berita yang sangat menyenangkan bagi kawan-kawannya. Sejak itu mereka berpisah satu sama lain dan menyebar ke seluruh pelosok pulau Yapen dan mendiaminya hingga hari ini. Selain itu karena mereka berasal dari keturunan hewan, maka bagi keluarga yang bersangkutan pantang memakan daging jenis hewan tersebut. Dalam hal ini misalkan fam Karubaba pantang untuk memakan daging anjing, sedangkan fam Mansai pantang makan daging kasuari.

Akibat keruntuhan menara ke bulan, menimbulkan penyebaran penduduk sehingga menyebabkan penggunaan bahasa didaerah Yapen Waropen banyak ragamnya. (*)

Sumber di sini

Iklan